Ternyata Anjing Memiliki Sifat Yang Lebih Mulia Dari Kebanyakan Manusia

 

Ternyata Anjing memiliki sifat yang lebih mulia dari Kebanyakan manusia.

by Membaca Al Quran on Sunday, July 18, 2010 at 12:30pm
الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلا يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلا الْفَاسِقِينَ (٢٦)

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu[*]. Adapun orang-orang yang beriman, Maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?." dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah[**], dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik” (QS Al Baqarah : 26)

[*] Diwaktu turunnya surat Al Hajj ayat 73 yang di dalamnya Tuhan menerangkan bahwa berhala-berhala yang mereka sembah itu tidak dapat membuat lalat, Sekalipun mereka kerjakan bersama-sama, dan turunnya surat Al Ankabuut ayat 41 yang di dalamnya Tuhan menggambarkan Kelemahan berhala-berhala yang dijadikan oleh orang-orang musyrik itu sebagai pelindung sama dengan lemahnya sarang laba-laba.
[**] Disesatkan Allah berarti: bahwa orang itu sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah. dalam ayat ini, karena mereka itu ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya Allah menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan, Maka mereka itu menjadi sesat.

Firman Allah dalam Surat Al Maidah : 4 :

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ (٤)

“ mereka menanyakan kepadamu: "Apakah yang Dihalalkan bagi mereka?". Katakanlah: "Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu[399]. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu[400], dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya)[401]. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat cepat hisab-Nya”

[399] Maksudnya: binatang buas itu dilatih menurut kepandaian yang diperolehnya dari pengalaman; pikiran manusia dan ilham dari Allah tentang melatih binatang buas dan cara berburu.
[400] Yaitu: buruan yang ditangkap binatang buas semata-mata untukmu dan tidak dimakan sedikitpun oleh binatang itu.
[401] Maksudnya: di waktu melepaskan binatang buas itu disebut nama Allah sebagai ganti binatang buruan itu sendiri menyebutkan waktu menerkam buruan.

Suatu ketika di sebuah surau, disebuah lingkungan Pondok Pesantren beberapa orang Santri (sebutan untuk anak² yang berada di pesantren) terlihat sedang asik bermusyawarah mengenai hewan yang najis dan hukumnya. beberapa yang lain membahas ciri dan sifat orang yang dekat kepada Allah SWT.

Si Jabir berkata, "Ih, anjing udah jorok najis pula, kenapa ya Allah menciptakan anjing....."
Si Pulan yang berada disampingnya “Jiah…. Kenapa pula kau tanyakan tentang kehendak Tuhan mau diciptakan apapun dia maha Berkehendak, tak baik kau bertanya seperti itu, dosa kau nanti, kualat kau nanti, trus diadzablah kau nantinya”
Musyawarah itu terus berlanjut dan tidak menemukan titik temu, dan anak anak yang lain pun mulai ikut didalamnya, sebagian ikut bingung dan bertanya, sebagian yang lain mendukung dengan dalil – dalil Al Qur’an maupun Hadist. Semakin lama mereka semakin tertarik sampai sampai tidak tahu kalau seorang ustadz telah berada di ruangan itu. Tiba tiba :
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (١٩١)

‘” (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka”

Pak ustadz membacakan ayat Al Qur’an dari surah Al Imron :191.
Beberapa orang murid yang tadinya bergerombol dan saling tanya jawab, langsung duduk berjejer dengan rapi dan terlihat ekspresi di muka mereka ada yang senyum senyum ada yang bingung, ada yang sibuk mempersiapkan catatan, dll.

Pak guru membuka dengan salam dan kemudian bertanya, “perbincangan apakah gerangan yang tadi engkau ributkan…..?”
Si Jabir yang memang dari awal memang penasaran dan ingin tau menjawab “begini pak ustadz, kan dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa, babi dan beberapa binatang buas termasuk Anjing, diharamkan, serta Najis pula, trus kenapa di ciptakan dan apa pula manfaatnya…..?
Pak Ustadz : Aku memiliki beberapa jawaban untukmu, pilihlah mana yang paling cocok bagimu, jika pertanyaanmu adalah "kenapa Allah menciptakan anjing?" Saya akan berkata "Saya tidak tahu !". Silakan engkau menanyakan langsung kepada Allah. Saya sendiri tidak akan pernah mempertanyakan apa yang diperbuat oleh Allah, terkait dengan apa-apa yang Allah ciptakan. Kedua jika maksud pertanyaanmu adalah "Apakah ada sebuah hikmah yang dapat diambil dari perbuatan Allah menciptakan anjing ?" maka Insya Allah saya bisa menjawabnya.
1. Allah menciptakan anjing untuk menghinakan orang yang bertanya mengapa DIA menciptakan anjing. Seolah-olah penciptaan anjing tidak memberikan manfaat. Padahal sungguh, dia sendiri tidak akan sanggup menciptakan anjing hidup dengan tangannya sendirian.

1. Karena itu, Allah memperlihatkan keagungannya kepadamu dengan menciptakan anjing. Sesungguhnya anjing itu memiliki beberapa sifat yang baik, yang kalau ada pada diri manusia, tentu orang itu akan memperoleh derajat yang tinggi. Sifat-sifat itu adalah:
• Banyak menanggung lapar, seperti orang-orang saleh.
• Tidak mempunyai tempat tertentu, seperti orang-orang tawakkal.
• Sedikit tidur di waktu malam, seperti orang- orang muhibbin.
• Tidak mempunyai harta seperti orang-orang yang zuhud.
• Tidak meninggalkan tuannya sekalipun kasar terhadapnya, seperti muridin
• Rela di mana saja berada, seperti orang-orang yang rendah hati dan ikhlas.
• Pergi dari tempat ia diusir ke tempat lainnya, seperti orang-orang yang ridha.
• Jika dipukul dan kemudian diberi sesuatu, maka ia akan kembali tanpa ada rasa dendam, seperti orang-orang yang khusyu'.
Tidakkah engkau berhutang taubat kepada-Nya karena telah menghinakan mahluk-Nya yang memiliki kebaikan yang tidak engkau miliki ?

TIADA ALLAH CIPTAKAN SESUATU DI MUKA BUMI INI DENGAN SIA SIA, DAN SETIAP APA YANG ALLAH CIPTAKAN DI LANGIT DAN DIBUMI DIDALAM TERDAPAT TANDA TANDA KEKUASAAN ALLAH BAGI KAUM YANG BERPIKIR.

Wallahu’alam

 

3 komentar:

handoko said...

jika kamu kamu orang yg berakal maka kamu akan mengambil hikmah daari padanya..

Muhammad Ihya' said...

subhanalloh, bener-bener...

Paapuru Batafurai said...

tambahan, anjing juga termasuk seksi/divisi dalam hal keharaman; babi, khamar, judi dsb termasuk di dalamnya...

seksi/divisi keharaman bertugas menjadi benda/perbuatan yang diharamkan...

jika tak ada seksi/divisi keharaman apa yang akan diharamkan/jadi larangan Allah?

Design by The Blogger Templates

Design by The Blogger Templates