Showing posts with label أخبار. Show all posts
Showing posts with label أخبار. Show all posts

Who is This Allah

"Who Is This Allah" Buku ini menjabarkan siapakah Allah dari sudut pandang Islam dan Kristen. Menurut G.J.O Moshay, pertama kali di terbitkan pada tahun 1990 banyak orang Eropa maupun di Amerika mengungkap salah satu issue utama saat itu. sejak buku "Who is This Allah" ini beredar luas terutama di Nigeria yang merupakan tempat peredaran perdananya dan telah menjadi stimulus utama dalam suatu debat mengenai Who Is This Allah.

Buku Karangan G.J.O Moshay yang memang diperuntukkan Kalangan pribadi Umat Kristen ini ada hubungannya dengan perwujudan sikap Kristen Terhadap Islam dan Sikap Islam Terhadap Kristen. dalam buku ini dikatakan bahwa pembahasannya merupakan tafsiran dari Al Quran maupun Al Injil. dengan mengambil latar belakang kedua kitab Suci tersebut (yang menurut Admin lebih membela Injil) di uraikan pemahaman ,Pesan, Kesan serta Pemikiran yang menyudutkan Umat Islam. hasil dari pemikiran pemikiran dari Eropa dan Amerika buku "Who Is This Allah" ini kembali di edarkan pada tahun 1995 meskipun masih untuk kalangan Pribadi. 

Banyak hal yang di ungkapkan secara tidak lengkap dan dengan penekanan bahwa Islam Identik dengan Kekerasan dan pembunuhan serta Keserakahan dan Tindakan Anarkis lainnya dengan menyembunyikan awal mula terjadinya kekerasan dan peperangan serta sikap Lemah Lembut yang memang menjadi Pondasi Utama Agama Islam. Nampaknya Penulis hafal setiap Ayat dari Alqur'an yang menerangkan tentang hal tersebut. dan dengan segala daya dan upaya dengan Nalar Si Penulis "G.J.O Moshay" digambarkanlah Islam sedemikian rupa menjadi suatu agama yang identik dengan hal tersebut diatas. 

Isu ini memang merupakan masalah yang pelik dan penuntasannya dirasa sangat penting artinya untuk Umat Islam, agar tidak terjerumus kedalam pengertian, Pandangan dan Pola Pikir Penulis "G.J.O Moshay" dengan mengungkapkan fakta fakta dan informasi yang lebih baik dari apa yang disampaikan oleh G.J.O Moshay dalam bukunya "Who Is This Allah".

Dikatakan keseriusan Buku ini seakan menuntut keterusterangan yang ikhlas, akan tetapi setelah beberapa kali admin ulangi membaca buku ini, terdapat sebuah pesan dan tujuan Kristenisasi dari sang Penulis G.J.O Moshay, terutama untuk mereka umat islam di negara negara Eropa, Amerika dan Afrika pada khususnya yang pada saat itu masih mengetahui sedikit sekali tentang Islam dan Alquran. 

Dalam Kesempatan Ini dan Melalui Blog ini Admin ingin sekali mengungkap sedikit kesalah pahaman mereka, Penulis dan Pembaca Buku "Who Is This Allah" agar tidak terjadi penyimpangan pengertian dan penyelewengan fakta - fakta tentang Islam dan Alquran. 

Pembahasan selanjutnya mengenai Apa dan bagaimana isi buku Who Is This Allah karangan G.J.O Moshay ini akan admin uraikan dilain kesempatan. Semoga Allah Swt memberikan hidayah dan Petunjuk kepada kita semua Amin.


Idul Adha عيد الأضحى


Idul Adha adalah sebuah hari raya Islam. Pada hari ini diperingati peristiwa kurban, yaitu ketika nabi Ibrahim (Abraham), yang bersedia untuk mengorbankan putranya Ismail untuk Allah, akan mengorbankan putranya Ismail, kemudian digantikan oleh-Nya dengan domba.

Pada hari raya ini, umat Islam berkumpul pada pagi hari dan melakukan salat Ied bersama-sama di tanah lapang, seperti ketika merayakan Idul Fitri. Setelah salat, dilakukan penyembelihan hewan kurban, untuk memperingati perintah Allah kepada Nabi Ibrahim yang menyembelih domba sebagai pengganti putranya.

Hari Raya Idul Adha jatuh pada tanggal 10 bulan Dzulhijjah, hari ini jatuh persis 70 hari setelah perayaan Idul Fitri. Hari ini juga beserta hari-hari Tasyrik diharamkan puasa bagi umat Islam. Pusat perayaan Idul Adha adalah sebuah desa kecil di Arab Saudi yang bernama Mina, dekat Mekkah. Di sini ada tiga tiang batu yang melambangkan Iblis dan harus dilempari batu oleh umat Muslim yang sedang naik Haji.
Hari Idul Adha adalah puncaknya ibadah Haji yang dilaksanakan umat Muslim.

Penetapan Idul Adha

Bahwa bila umat Islam meyakini, bahwa pilar dan inti dari ibadah haji adalah wukuf di Arafah, sementara Hari Arafah itu sendiri adalah hari ketika jamaah haji di tanah suci sedang melakukan wukuf di Arafah, sebagaimana sabda Nabi saw.:

«اَلْحَجُّ عَرَفَةُ»
Ibadah haji adalah (wukuf) di Arafah. (HR at-Tirmidzi, Ibn Majah, al-Baihaqi, ad-Daruquthni, Ahmad, dan al-Hakim. Al-Hakim berkomentar, “Hadits ini sahih, sekalipun beliau berdua [Bukhari-Muslim] tidak mengeluarkannya”).

Maka mestinya, umat Islam di seluruh dunia yang tidak sedang menunaikan ibadah haji menjadikan penentuan hari Arafah di tanah suci sebagai pedoman. Bukan berjalan sendiri-sendiri seperti sekarang ini. Apalagi Nabi Muhammad juga telah menegaskan hal itu. Dalam hadits yang dituturkan oleh Husain bin al-Harits al-Jadali berkata, bahwa amir Makkah pernah menyampaikan khutbah, kemudian berkata:

«عَهِدَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللهِ e أَنْ نَنْسُكَ لِلرُّؤْيَةِ فَإِنْ لَمْ نَرَهُ وَشَهِدَ شَاهِدَا عَدْلٍ نَسَكْنَا بِشَهَادَتِهِمَا»
Rasulullah saw. telah berpesan kepada kami agar kami menunaikan ibadah haji berdasarkan ru’yat (hilal Dzulhijjah). Jika kami tidak bisa menyaksikannya, kemudian ada dua saksi adil (yang menyaksikannya), maka kami harus mengerjakan manasik berdasarkan kesaksian mereka. (HR Abu Dawud, al-Baihaqi dan ad-Daruquthni. Ad-Daruquthni berkomentar, “Hadits ini isnadnya bersambung, dan sahih.”).

Hadits ini menjelaskan: Pertama, bahwa pelaksanaan ibadah haji harus didasarkan kepada hasil ru’yat hilal 1 Dzulhijjah, sehingga kapan wukuf dan Idul Adhanya bisa ditetapkan. Kedua, pesan Nabi kepada amir Makkah, sebagai penguasa wilayah, tempat di mana perhelatan haji dilaksanakan, untuk melakukan ru’yat; jika tidak berhasil, maka ru’yat orang lain, yang menyatakan kesaksiannya kepada amir Makkah.


 Perbedaan penetapan Shalat Idhul Adha 

Padang (ANTARA) - Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat, meminta semua elemen untuk sama-sama menghormati perbedaan dalam penetapan Shalat Idul Adha 1431 hijriah/10 Dzulhijjah.
"PW Muhammadiyah Sumbar bersama warga dan simpatisan akan melaksanakan shalat Idul Adha 1431 hijriah pada 16 November 2010 berdasarkan hasil hisab hakiki wujudul hilal. Kita minta semua pihak menghormati," kata Ketua PW Muhammadiyah, Darlis Ilyas kepada wartawan di Padang, Rabu.

Darlis menjelaskan, Muhammadiyah jauh sebelumnya sudah menetapkan 10 Djulhijjah jatuh pada 16 November 2010, berdasarkan penghitungan yang dilakukan, dan selama ini tak pernah melenceng. Namun, pemerintah mengumumkan pelaksanaan Idul Adha 1431 hijriah jatuh pada 17 November 2010, hasil dari sidang hisab ru`yat atau melihat bulan dan diputuskan berbeda dengan Muhammadiyah.

"Kita minta perbedaan yang terjadi, agar saling menghormatinya, tentu dalam pelaksanaan shalat Idul Adha 1431 hijriah mendatang pemberian fasilitasnya bisa disamakan," katanya. Selain itu, tambahnya, adanya perbedaan dalam penetapan 10 Dzulhijjah 1431 hijriah itu, diyakini tidak akan menimbulkan kegalauan di tengah umat.

Terkait, umat sudah punya keyakinan dalam menjalakan ibadahnya sehingga perbedaan dalam pelaksanaan shalat Idul Adha tak akan menimbulkan keraguan-keraguan. Khususnya warga dan simpatisan Muhammadiyah di Sumbar, kata Darlis, sudah disampaikan tetap pelaksanaan shalat idul adha pada 16 November mendatang.

Jadi, PW Muhammadiyah Sumbar merujuk kepada Maklumat PP Muhammadiyah Nomor; 05/MLM/1.0/E/2010 tentang penetapan 1 Ramadhan, 1 Syawwal, 1 Dzulhijjah 1431 hijriah serta imbaun menyambut ramadhan.

Darlis menjelaskan, ijtimak menjelang Dzulhijjah 1431 hijriah terjadi pada Sabtu, 6 November 2010 pukul 11:15:04 WIB, sedangkan tinggi hilal pada matahari terbenam di Yogyakarta (hilal sudah wujud) dan di seluruh wilayah Indonesia pada saat matahari terbenam hilal sudah di atas ufuk.

Jadi, berdasarkan hasil hisab tersebut, makanya majelis tarjih dan tajdid PP Muhammadiyah mengumumkan, 1 Dzulhijjah 1431 hijriah jatuh pada Ahad, 7 November 2010 Masehi. Sedangkan hari arafah (9 Dzulhijjah 1431 hijrian, red) jatu pada Senin (15/11) sehingga Idul Adha (10 Dzulhijjah) jatuh pada Selasa (16/11).

Koordinator Hisab PW Muhammadiyah Sumbar, Firdaus AN, MHI menambahkan, penentuan dan penetapan 1 Ramadhan, 1 Sawwal dan 1 Dzulhijjah, melalui penghitungan sesuai dengan Al-quran dan Sunnah Rasulullah.
Jadi, tolak ukur dalam penetapan hisab dalam tahun hijrian, Muhammadiyah selalu berpatokan pada hilal di atas 0 derejat, artinya sudah menandakan (hilal sudah wujud). Kenapa Muhammadiyah dalam hisab tidak menunggu hilal sampai 2 derjat di atas ufuk --bertemu kaki langit, atau garis herizontal di permukaan laut--, terkait pada posisi itu bulan sudah ada, tetapi belum bisa dilihat dengan alat maupun mata telanjang. Apalagi, dengan situasi geografis wilayah Indonesia dan ditambah dengan cuaca buruk, sehingga untuk ru`ya akan dihadapkan kesulitan.

Oleh karena itu, kata Firdaus, dalam Al-quran Surat Yunus sudah ditegaskan Allah SWT, agar menyuruh untuk melaksanakan dengan efektif, maka Muhammadiyah menjalankan dengan cara yang efektif tersebut. Jadi, pada 6 November 2010 pada waktu Maqrib sudah masuk malam pertama Dzulhijjah atau hilal sudah di atas 0 derajat sehingga sudah dianggap positif. "Pada ahad atau 7 November 2010 sudah jatuh hari pertama Dzulhijjah, karenanya wukuf di Arafah tepatnya pada 15 November mendatang," katanya.

Tulisan Asli Al-Quran Ada di Makkah

Ternyata sebuah tulisan para sahabat sebagai cikap-bakal penulisan Al-Quran itu terpajang rapi dalam sebuah kotak kaca persegi empat yang tertutup. Lembaran-lembaran kertas berwarna putih bersih dengan goresan tulisan-tulisan yang tidak semua orang mengerti maksud dari bahasa itulah, yang menjadi sebuah Al-Quran yang kit abaca sekarang ini.

Itu adalah tulisan pertama dari Al Quran. Tulisan tangan asli dari Al Quran yang kemudian dimodifikasi di era Khalifah Usman bin Affan itu yang kemudian disebut sebagai Quran Usmani, mushaf Ustmani.

Tulisannya berbeda dengan apa yang tergores dalam Quran masa kini. Mirip dengan kitab-kitab kuno pada umumnya. Huruf yang lebih besar dan tidak ada tanda dalam setiap huruf yang tertulis. Seperti misalkan huruf ba yang terdapat titik di bawah atau nun yang ada titik di atas.

"Ini Quran asli yang pernah ditulis para sahabat ketika nabi menerima wahyu,"kata Mahmud Farizi seorang pembimbing ibadah dari kloter 27 Jakarta-Saudi (JKS) i di Museum Kakbah, Makkah, Selasa (8/11).

Quran Usmani itu kini terdapat di Museum Ka’bah yang terletak di kawasan Ummul Dun Kota Makkah arah barat. Memang Quran yang dipajang dalam museum tersebut, bukan quran asli yang tertulis di lembaran pelepah kurma pada saat zaman Nabi.

Menurut Mahmud, awal muasal kenapa Quran dibukukan seperti saat ini? Pengusulnya agar Al-Quran itu dibukukan adalah sahabat Umar bin Khattab. Umar Khawatir melihat banyaknya para hafidz (penghapal) Quran yang meninggal dunia.

Setelah sempat tiga kali ditolah khalifah Abu Bakar Asshidiq, akhirnya usulan agar Quran dibukukan direstui juga pada akhir masa pemerintahan Abu Bakar. Belakangan, kitab-kitab Quran itu dimodifikasi hingga sampai ke umat Islam seperti sekarang ini. "Yang dimodifikasi hurufnya bukan isi dari qurannya,"tutur Mahmud.

Ketika itu sahabat nabi Zaid bin Haritsah ditugaskan sebagai ketua tim lima untuk merumuskan pembukuan ayat-ayat Alquran. Zaid ditunjuk karena dirinya memiliki kemampuan keindahan menulis yang luar biasa.

karena itu Bagi para jamaah calon haji asal Indonesia, tentu Quran asli Usmani ini menjadi pengetahuan tersendiri. Betapa sejarah dan perjuangan para sahabat di masa Nabi itu sangat hebat dalam usaha menuliskan Al-Quran sekaligus mempertahankan Islam untuk dunia.

Sumber : NU Online

Design by The Blogger Templates

Design by The Blogger Templates