Showing posts with label hadist. Show all posts
Showing posts with label hadist. Show all posts

Belajar Syari'at menuju Makrifat

Dengan hanya membaca judulnya, sebagaian orang mungkin akan berpikiran jauh. Wah ini pembahasan pasti sulit untuk diserap, paradigma yang telah berkembang dan diyakini oleh sebagian besar umat islam saat ini perihal tentang tingkatan tersebut agaknya sudah terlalu dalam. Suatu pengertian yang berkenaan dengan makna yang terlanjur diadopsi oleh sebagian orang sebagai sesuatu yang sulit untuk dimengerti atau bahkan di laksanakan. Suatu konsep pemikiran termasuk ekspresi yang seharusnya berkaitan dengan nilai-nilai etika dan nilai-nilai kehidupan secara keseluruhan. Sehingga sebagian orang terus dibayang-bayangi rasa penasaran akan makna sebenarnya dari tingkatan tersebut.
Syari’at bisa disebut syir’ah bermakna sumber yang Kemudian kata tersebut digunakan untuk pengertian hukum-hukum Allah yang diturunkan untuk manusia. Kata “syara’a” berarti memakai syari’at. Juga kata “syara’a” atau “istara’a” berarti membentuk syari’at atau hukum. Dalam hal ini Allah berfirman,
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ (٤٨)
“dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu” (QS:Al Maidah:48)
kata شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا bermakna “aturan dan jalan yang terang”
Dalam firman Allah SWT :
شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ (١٣)
“Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)”
شَرَعَ = Allah telah mensyari’atkan (mengatur)
Dalam arti yang luas syari’at Artinya, hukum-hukum (peraturan) yang diturunkan Allah swt. melalui rasul-rasulNya yang mulia, untuk manusia, agar mereka keluar dari kegelapan ke dalam terang, dan mendapatkan petunjuk ke jalan yang lurus.
Melaksanakan syariat berarti mentaati peraturan / perintah perintah Allah SWT, yang diwahyukan kepada rasul Nya baik berupa Al-Qur’an maupun Sunnah Nabi yang berwujud perkataan, perbuatan, dan ketetapan, atau pengesahan.
Thariqah / Tarikat
Tarekat berasal dari bahasa Arab thariqah, jamaknya tharaiq, yang berarti jalan atau petunjuk jalan atau cara. Kata thariqah dalam al qur’an disebut kurang lebih sebanyak 9 kali. Diantaranya Firman Allah SWT dalam QS An Nisaa’:168 :

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَظَلَمُوا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلا لِيَهْدِيَهُمْ طَرِيقًا (١٦٨)
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka”

kata وَلا لِيَهْدِيَهُمْ طَرِيقًا “tidak akan menunjukkan jalan kepada mereka”
Dalam Firman Allah SWT diatas teramat jelas secara tersurat kata طَرِيقً = jalan. Sehingga apabila kemudian terdapat suatu doktrin tentang tarekat adalah salah satu ajaran pokok dengan tujuan untuk kesucian. Dengan lebih mementingkan aspek spiritual semata, sementara mengabaikan peranan sosial. Dan melupakan perhatian kepada perbaikan kehidupan masyarakat, sehingga kehidupan pengikut tarekat hanya terbatas bacaan wirid, zikir dan hidup dalam suasana sepi, bangun di tengah malam dan melaparkan diri.
Tidak jarang kemudian para pelaku jama’ah thariqah mengucilkan diri dari pergaulan di masyarakat, bahkan kemudian mengucilkan sebagian yang lain menganggap rendah dsb.
Dalam pandangan admin thariqah artinya petunjuk dalam melakukan sesuatu ibadah dengan ajaran yang ditentukan dan dicontoh oleh Nabi dan dikerjakan oleh tabi’in, turun temurun sampai dengan saat ini. Dengan kata lain thariqah adalah jalan / petunjuk dalam mengerjakan shalat, puasa, zakat, dzikir, do’a dan amalah ibadah lainnya.
Contoh mudah thariqah adalah :
1. Berwudlu mensucikan diri sebelum melaksanakan sholat.
2. Bangun untuk makan Sahur dan membaca do’a ketika akan berpuasa
3. Berdzikir sebelum sholat, dsb
thariqah = petunjuk / jalan untuk melaksanakan ibadah kepada Allah SWT.

3. HAKEKAT
Al-Haqqu = mempunyai makna benar, kebenaran, yang sebenar-benarnya, yang sesungguhnya.

فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّكَ عَلَى الْحَقِّ الْمُبِينِ (٧٩)
“ sebab itu bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata” (QS: An Naml:79)

المر تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ وَالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يُؤْمِنُونَ (١)

“ Alif laam miim raa. ini adalah ayat-ayat Al kitab (Al Quran). dan kitab yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu itu adalah Benar: akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya).

مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ (٧٤)

74. mereka tidak Mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha Perkasa. (QS Al Hajj:74)


Dari ke tiga ayat diatas kata al-haqqu ( kebenaran) itu adalah ” mengabdi / menyembah / menghambakan diri dengan sebenar benarnya kepada Alloh swt saja dan tidak mensekutukan Dia. Dilakukan dengan cara yang telah dicontohkan oleh Muhammad saw “ Hakekat adalah sesuatu bentuk ibadah yang sesungguhnya yang dikerjakan peraturan Allah yang dan sesuai dengan petunjuk yang telah dicontohkan oleh Rosulullah SAW.

Jadi Hakekat dalam agama islam adalah :
Perwujudan dari Menegakkan sholat sebagaimana yg diperintahkan dan yang telah dicontohkan oleh Muhmmad saw dan itu kita lakukan semata-mata karena Alloh. Inilah salah satu unsur dari al-haqqu yang akan membawa manfaat kepada pelakunya di akherat kelak, di antara unsur-unsur al-haqqu yang lain seperti, membaca ayat-ayat Alloh, berpuasa di bulan romadhon, zakat, infaq, shodaqoh, nikah, berbuat baik, jujur, dll yang semua itu ada dasarnya di dalam Al-Qur’an dan dijelaskan dalam As-Sunnah (perikehidupan Muhammad saw) dan semua itu mesti dilakukan semata-mata karena Alloh swt.

Suatu Bentuk pelaksanaan Sholat, Zakat, Puasa, dan amalan ibadah yang lain itulah Hakekat.

Demikianlah hakekat itu, mudah dan sederhana dan telah diamalkan oleh siapa saja dengan tingkat intelektualitas yang bagaimanapun.

Ma’rifat

Hati Hati berbicara tentang makrifat dan mempelajari makrifat admin yakin itulah kata yang muncul dari mulut saudara kita semua ketika di suguhi / ditanya tentang kata makrifat. Kalau mau belajar harus cari guru yang paling hebat dan orang yang paling alim. Makrifat ini adalah ilmu yang langka saking langkanya ilmu ini maka banyak orang mencari dan akhirnya tersesat. semula mengira bahwa ia akan mengajarkan ilmu hakikat makrifat ternyata mengajarkan yang bukan itu dan bahkan mengajarkan kesyirikan.
Ya…… admin yakin pikiran – pikiran seperti diatas selalu membayangi seseorang ketika bicara tentang makrifat. Suatu paradiqma yang sudah terlanjur berkembang dan dipercaya sebagai sesuatu yang ghaib dan jauh dari jangkauan kebanyakan akal dan pikiran manusia. Sebagian lagi beranggapan orang yang sudah makrifat itu sakti, kadang orang terkesan dengan kehebatan atau kesaktian yang dimiliki guru tersebut, dan menganggap kesaktian dan kehebatan itu tanda bahwa dia oarag suci. bisa inilah bisa itulah, ketemu sama inilah ketemu sama itulah, dsb.
Lalu apa beda mereka dengan para peramal, Dukun, tukang sihir, dsb ………? Toh mereka juga sakti (menurut beberapa orang) apakah mereka juga memiliki ilmu makrifat………???

Makrifat bukanlah sekedar ilmu namun suatu perbuatan atau tindakan yaitu suatu kesadaran dengan sebenar benar sadar bahwa tidak ada tuhan selain allah. mengakui sepenuhnya bahwa apa yang disampaikan rasulullah dalam qur an dan hadits adalah benar. apa yang benar itulah yang benar dan apa yang salah itu adalah salah. Perkuat syariah dan thariqah mengamalkan dengan keihlasan…. nanti nya akan ketemu dengan hakikat dan akhirnya akan makrifat. jadi sebenarnya Makrifat bukan ilmu namun suatu hasil amaliah. kalau makrifat di ilmukan jadinya malah membingungkan, bahkan ada yang lebih parah lagi ilmu makrifat diperdebatkan. Makrifat adalah wilayah pengalaman spiritual bahkan merupakan muara dari pengalaman ibadah itu sendiri yang akan kita alami. Tidak ada seorang gurupun yang mampu untuk memberikan kemampuan ini.
Yang sebenarnya bisa dilakukan oleh seorang guru memberikan suatu metode dengan mengajarkan syari’at, menuntun thariqat dan melaksanakan hakekat. Perkara makrifat atau tidak itu sangat tergantung dari Allah.
Firman Allah SWT :

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ (٢٥٥)

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.
Allah lah yang akan memperkenalkan dirinya kepada hambanya yang dikehendaki untuk memakrifati Dia. Melalui tanda tanda kebesaran Nya, yang sebenarnya sudah ada disekitar kita.
Firman Allah SWT : QS Ar Ruum : 20 – 24
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُونَ (٢٠)
20. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (٢١)
21. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ (٢٢)
22. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.
وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ (٢٣)
23. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.
وَمِنْ آيَاتِهِ يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَيُحْيِي بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (٢٤)
24. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.

bagaimana selanjutnya syari'ah, Thariqah, Hakekat, makrifat, menjadi sesutu hal yang misteius, adalah karena pola pikir manusia itu sendiri. karena sejatinya kesemuanya itu sudah diajarkan oleh rosulullah SAW dan diamalkan oleh kebanyakan Umat saaat ini.

Semoga kita diberi kemudahan Allah untuk mengenal NYa…
Amin ya rabbal alamin.

Wallahu’alam

Si Pulan

Al Kisah suatu ketika di sebuah lingkungan Pondok Pesantren,Terjadi pergunjingan tentang seorang santri (Si Pulan) yang sangat di sayangi oleh Pengasuhnya. Santri santri yang lain merasa iri hati karena perlakukan istimewa terhadap satu murid itu.. Mereka tak dapat mengerti mengapa Syeikh memberi perhatian khusus kepada anak itu. Akhirnya kabar itu terdengar ke telinga pengasuh Pondok Pesantren. Pak Kyai pun menyuruh semua santrinya untuk berkumpul di Aula. 

Kyai : “wahai para santri, permasalahan apakah yang kalian pergunjingkan selama ini terhadap Si Pulan”

Santri : “Kyai, selama ini kami semua adalah murid-murid yang tunduk dan patuh pada nasehat kyai, apakah gerangan penyebabnya sehingga Si Pulan mendapat perlakuan yang lebih istimewa dari kami, kami lebih dahulu mengabdi dan tidak sedikit dari kami yang ilmunya lebih tinggi dari Si Pulan” lalu kenapa Kyai lebih menyayangi si pulan dari pada kami semua…?

Singkat cerita Pak Kyai menyuruh setiap santri membeli ayam untuk kemudian menyembelihnya. Namun Pak Kyai memberi syarat bahwa mereka harus menyembelih ayam itu di tempat di mana tak ada yang dapat melihat mereka. Dan sebelum matahari terbenam, mereka harus dapat menyelesaikan tugas itu. 

Ke esokan harinya para santri berkumpul di halaman Pondok Pesantren dengan membawa sebilah pisau dan se ekor ayam. 

Kyai : “Baiklah…..!! hari ini aku adakan sayembara” Pergilah kalian ke menapun kalian akan menyembelih ayam itu, dengan syarat pada saat menyembelih ayam itu tidak boleh ada yang mengetahui nya. 

Para santri pun menuruti perintah dari Kyai, beberapa saat kemudian Satu demi satu santri kembali ke hadapan Pak Kyai, semua membawa ayam yang telah tersembelih. Dari muka mereka terlihat wajah sumringah karena telah berhasil menunaikan amanat dari Kyai, namun setelah lama menunggu Si Pulan tak juga datang, para santri pun kembali bertanya tanya ada yang meledek 

Santri 1 : “yach…. Masak potong ayam aja lama banget….?” 

Santri 2 : “nah terbukti sekarang, Si Pulan tuh gak bisa apa² paling paling dia lupa cara menyembelih ayam..”

Santri 3 : “Gak tau niatnya kaliee…..?”

Santri 4 : “Gue nih.. yang pertama berhasil, pasti gue yang menang…”

Iman Dan Islam



Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Firman Allah SWT  QS Al Hujuraat : 14

قَالَتِ الأعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الإيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (١٤)

“ orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi Katakanlah 'kami telah tunduk',(islam) karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

dalam Firman Allah SWT diatas di jelaskan secara implisit bahwa terdapat segolongan orang orang Arab yang mengaku beriman آمَنَّا dalam lanjutan ayat tersebut di jelaskan bahwasanya mereka belum beriman akan tetapi mereka masih Islam (أَسْلَمْنَا). hal ini disebabkan karena Iman belum masuk kedalam hati mereka. 
sebelum kita lanjutkan pembahasan tentang mana yang terlebih dahulu antara iman dan islam ada baiknya kita buka kembali memori tentang apa itu islam dan apa itu iman. 
dari segi bahasa Islam bisa diartikan tunduk dan menyerah kepada Allah Taala seperti halnya diterangkan dalam ayat diatas dan terdapat 5 perkara yang menjadi rukun Islam.
1. Membaca 2 kalimah syahadah (penyaksian / pengakuan) bahwa tidak ada Tuhan Selain Allah SWT dan Rosulullah SAW adalah utusan Nya. 
2. Mendirikan Shalat.
3. Mengeluarkan Zakat. 
4. Berpuasa Bulan Ramadhan 
5. Melaksanakan Ibadah Haji (bagi yang mampu) 

Sedangkan Iman dari segi bahasa ialah membenarkan. ada 6 Rukun iman yang wajib dipercayai oleh manusia.
1. Percaya kepada Allah SWT. 
2. Percaya kepada Malaikat Allah SWT.
3. Percaya Kepada Kitab Kitab Allah SWT.
4. Percaya Kepada Rosul (utusan) Allah SWT. 
5. Percaya Kepada Hari Kiamat dan
6. Percaya Kepada Qada dan Qadar

Mungkin telah banyak kita baca atau kita dengar dan saksikan ceramah agama  baik dari media cetak maupun elektronik atau di beberapa website tentang pengertian iman dan islam.  
Perbincangan tentang mana yang terlebih dahulu Iman atau Islam pun mungkin sudah pernah kita baca atau kita ketahui sebelumnya. disatu pihak ada yang mengatakan islam dulu baru iman dan di sisi yang lain Iman dulu baru islam, hal ini tentunya masih menyisakan pertanyaan siapa atau mana yang benar. 

Untuk menyingkap hal itu terlebih dahulu kita kembalikan kedalam diri kita dari kecil hingga saat ini mana yang kita dalami terlebih dahulu...? 
1. Apakah  anda melakukan Rukun Islam terlebih dahulu sebelum Percaya dan benar benar Taqwa kepada Allah dan Rukun Iman yang lain.....?
2. Atau apakah anda beriman dahulu sebelum masuk islam....?

kedua pertanyaan diatas sudah menjawab mana yang terlebih dahulu apakah iman atau islam, adalah tergantung pada pribadi masing masing. bagi sebagian kita yang memang dilahirkan sebagai anak keturunan dari Orang Islam (ayah dan ibu sudah memeluk islam) maka sudah sepantasnya masuk islam terlebih dahulu dengan melaksanakan 5 Rukun Islam yang telah disebut diatas. 
Kembalikan memori anda kemasa lalu ketika anda saat itu masih Sekolah Dasar atau baru pertama kali membaca kalimah syahadat. 
Apakah Anda Telah Mempunyai Iman ........?? 
Dalam artian yang lebih luas apakah anda benar benar percaya kepada Allah SWT, Malaikat, dan rukun iman yang lainnya....? tentunya hal itu masih belum terlintas sedikitpun dibenak kita apa itu Qada dan Qadar apa dan bagaimana hari kiamat, serta apa bekal yang akan dibawa agar selamat nanti dihari pembalasan, dan lain sebagainya. 
Pikiran kita termasuk juga saya, pada masa itu tidak lebih hanya sekedar melaksanakan Rukun Islam itupun seringkali kita tinggalkan, seperti syahadat, shalat , puasa, apalagi menunaikan zakat.

Akan tetapi lain halnya dengan sebagian dari kita yang tidak punya latar belakang agama islam sama sekali, berangkat dari kehidupan orang tua yang jauh dari mengenal agama islam, tentunya tidak pernah mengenal apa itu syahadat, apa itu shalat, puasa dan zakat. sebagian dari mereka yang pada akhirnya masuk islam pastinya tidak serta merta masuk dan melaksanakan Rukun Islam. akan tetapi berawal dari pencarian tentang Tuhan, pencarian jati diri tentang apa dan bagaimana hidup ini.
Dengan Hidayah / Petunjuk dari Allah SWT melalui bukti adanya dunia ini, pasti ada yang menciptakan, dan Rahasia - rahasia kehidupan yang terkadang tidak bisa di ungkap oleh akal pikiran. 

Tidak sedikit mereka yang pada awalnya tidak mengenal atau bahkan tidak mau mengenal islam, setelah mendapat petunjuk dari Allah SWT mereka sadar dan insyaf masuk islam. mereka terlebih dahulu percaya Kepada Allah SWT yang secara tidak langsung mereka juga mempercayai Malaikat Allah SWT, Kitab Kitab Allah SWT, Rosul / utusan Allah SWT, Hari Kiamat serta Qada dan Qadar, tentunya hal ini tidak berlangsung sekaligus. 
Bahkan tidak sedikit mereka yang pada awalnya adalah seorang Pendeta dari Kaum Nasrani setelah membaca Kitab Suci Al Qur'an mereka akhirnya masuk islam. 
Dalam Proses ini tentunya yang lahir terlebih dahulu dalam hati mereka adalah ke-IMAN-an, Percaya dengan sebenar benarnya kepada Allah SWT, barulah mereka masuk Islam.

Tidak Jadi suatu permasalahan apakah Islam Terlebih Dahulu atau Iman Terlebih dahulu. karena hal tersebut tergantung dari mana jalan kita masuk kepada tingkat yang lebih baik lagi yakni IHSAN.

Islam terlebih dahulu bagi mereka yang memang lahir dalam lingkungan Islam. 
Insya Allah Iman terlebih dahulu bagi mereka yang lahir di luar lingkungan Islam. 

Semoga bermanfaat, 
hamba hanyalah seorang manusia biasa tidak luput dari salah dan dosa, KEBENARAN yang sejati hanya MILIK ALLAH SWT.

Wallahu'alam.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Design by The Blogger Templates

Design by The Blogger Templates